Another Diet.. is about to Start!

I’m going back to the track.

Yes, besok Senin 23 Agustus 2014 akan menjadi hari pertamaku berdiet kembali. Sekaligus hari ketiga Syawalan *ngejar Syawal yang udah di ujung banget iniiii hehehe. So, here is the short term plan, for my one-week-diet:

– Hari 1 (Senin 23 Aug)     : puasa, buka pakai air putih dan buah (pepaya, apel). Jam 7 makan malam pake pepes tahu dan sayur asem.

– Hari 2 (Selasa, 24 Aug)  : puasa, buka pake *liat sikon*

– Hari 3 sampe 7, idem. Muhahahahahh. Pokoknya puasa empat hari aja sampe Kamis, karena Syawalnya udah dapet dua. Dan 7 hari ini harus NO RICE, NO OIL, NO SANTAN.

Diet ala aku ini ditargetkan akan berlangsung selama 7 minggu, dengan kisaran penurunan BB 4-5 kg. Seems so dreaming but we’ll see how long I will survive this time. Hehehe.

Selama 7 hari ke depan, selain 3 pantangan di atas, aku harus selalu clean eating dan work out sehari 30 menit.

Hari ini (dan hari-hari sebelumnya juga sih huhuhu) aku udah menjadikan perutku seperti tempat sampah. Semua masuk dan melebihi kapasitas. Demi menebus dosa pada perut dan tubuhku itu, aku harus survive 7 hari ke depan ini!

I guess I’m so ready for tomorrow? Hope so! 🙂

 

S.H

 

 

 

 

Advertisements

Always Standing by My Side: Doraemon

Dulu kalau ditanya hobi, aku pasti mantab jawab “membaca”.

Papaku hobi membaca. Beliau senang kalau anak-anaknya tertular hobi itu, jadi saat aku kecil, papa suka suruh aku baca. Mau novel atau komik, gak masalah. Gak harus yang berat-berat, toh masih kecil. Kebetulan saat kecil dulu, aku sangat menikmati membaca, sampai aku berlangganan majalah Bobo setiap minggu. Lain dengan kakakku, dia cuek sekali sama bacaan apapun.

Masa kecilku dihabiskan di Puncak, Lampung, dan Jakarta. Ingatan masa kecilku memang tidak cukup baik, tapi salah satu yang bisa kuingat adalah saat kelas 2 atau 3 SD di Lampung, aku sudah mulai suka membaca majalah Bobo. Karena langganan, setiap seminggu sekali (kalau tidak salah, atau malah sebulan sekali?) aku akan dengan suka cita menyambut motor berkantung kanan-kiri yang datang memberikan “jatahku” tiap minggunya. Motor ini khas sekali, ditambah perasaan excited-ku tiap kali melihat motor ini mendatangi halaman rumah di Lampung dulu, membuat kenangan itu masih samar berbekas. Koleksi majalah Bobo-ku bertumpuk-tumpuk, banyak sekali. Seringkali, yang paling kunikmati adalah cerpen dan cerbungnya, bukan komiknya. Aku akan dibawa berimajinasi sesuai arahan penulis melalui cerita tsb., sungguh menyenangkan rasanya.

Kalau Papa kebetulan sedang bersama kami di Lampung, Papa kadang akan mengajakku ke rental buku di daerah Panjang, bermotor, aku membonceng di belakangnya. Saat itu komik-komik yang aku sewa adalah Topeng Kaca Bidadari Merah, Gold Fish, dan judul-judul lain yang tidak kuingat. Pernah suatu ketika Papa sedang di Malaysia, beliau masih sempat-sempatnya mengirimkan satu kardus berisi makanan plus buku-buku cerita. Ada Cinderella, lalu seri dongeng dunia ber-hardcover, ada juga buku cerita lainnya seperti Tiga Cewek Badung. Aku sungguh bersukacita menerimanya….

Pindah ke Jakarta kelas 4 SD, sore saat pulang ke rumah, Papa suka membawakan komik Doraemon. Jadi, koleksi Doraemonku pun nyaris lengkap, dari seri biasa sampai petualangan. Waktu itu harganya masih 6000 atau 6500. Selain Doraemon, ada juga Hatori. Kalau novel, aku koleksi Pasukan Mau Tahu-nya Enid Blyton. Masih kuingat excitement saat Papa membawaku jalan-jalan ke Gunung Agung, atau ke pasar loak Senen.

Nah, ada satu cerita yang masih membekas tentang hobiku membaca Doraemon saat di Jakarta itu. Mungkin saat kelas 4 atau 5 SD itulah, mamaku sedang mengandung adik perempuanku. Suatu malam aku membaca ulang salah satu koleksi komik Doraemonku (ini kebiasaanku sampai sekarang, suka baca-baca ulang komik apapun), di bagian akhir ada kisah tentang Doraemon yang meninggalkan Nobita, kembali ke masa depan. Membacanya, aku sungguh terlarut dalam kesedihan, air mata deras mengalir sambil sesenggukan. Celakanya, saat itu di semua kukuku terpasang stiker (jamanku SD trennya macam-macam, dari kalung hitam sampai stiker kuku! hahaha), begitu aku menangis, refleks dong aku kucek-kucek mata, eh ternyata satu stiker lepas dan masuk ke dalam mata. Bisa ditebak selanjutnya, aku pun panik, mataku terasa perih tetapi stikernya tidak kunjung berhasil dilepas. Semakin dicoba, stiker itu malah berpindah semakin dalam sampai ke atas bola mata. Aku pikir, mata ini kan berair, stiker ini pasti tidak lama lagi akan lepas dengan sendirinya. Jadi aku tenangkan diriku dan berharap setelah bangun tidur keesokan harinya, stiker ini sudah akan lepas sendiri.

Nyatanya tidaklah demikian. Esok harinya saat bangun tidur, mataku makin merah dan perih. Akhirnya dengan susah payah karena sudah hamil besar, mama menemaniku ke RSCM. Aku tidak ingat jelas kenapa RSCM, apakah sebelumnya sudah coba lebih dulu ke klinik terdekat lalu disarankan ke RSCM, yang jelas akhirnya aku ditangani oleh dr. Yoga (atau Yogi?) di hari itu juga aku divonis untuk melakukan operasi mata. Vonis, operasi. Ini kata-kata yang menghadirkan efek dramatis kan? Padahal tindakan operasi yang dimaksud hanyalah operasi kecil. Takut? Tentu sajaaa aku takut sekali! Aku ini kan nyalinya kecil, hahahaha. Tapi karena itu jalan satu-satunya, mau tidak mau aku pun berbaring di meja operasi. Dr. Yoga memintaku untuk tetap tenang dan agar arah mataku mengikuti arahannya, beberapa kali sang dokter juga meyakinkanku bahwa ini akan cepat dan tidak akan sakit kalau aku tetap tenang. Jangan panik saat alat yang berupa jarum kecil itu didekatkan ke mataku untuk “mencutik” si stiker. Tapi yang terjadi, aku panik! Hahahaha. Memang akhirnya operasi kecil itu tetap berakhir sukses, stiker berhasil dikeluarkan, tapi karena kepanikanku tadi, jadilah meninggalkan bekas merah di bagian atas bola mataku. Tidak begitu kentara, kecuali jika aku naikkan kelopak mataku, kemudian aku lihat ke arah bawah. Setelah operasi selesai, mataku (yang sekarang pun bahkan aku nggak ingat kiri atau kanannya) ditutup oleh perban selama beberapa hari, dan selama berhari-hari itu pula aku terpaksa menerima ledekan papaku, “pendekar mata satu”. Hehehe.

Sekarang, hampir 15 tahun semenjak insiden Doraemon itu, film layar lebar Doraemon yang sudah diputar serentak 8 Agustus lalu di Jepang, kabarnya akan tayang juga di sini. Bahkan sejak pertama kali mendengar berita akan dibuatnya film terakhir Doraemon berjudul Stand By Me, aku sudah memberi hanya satu pilihan pada diriku: bahwa aku harus menontonnya. Tanpa terasa, mungkin hanya dalam beberapa hari ke depan, atau mungkin beberapa minggu, atau bahkan hitungan bulan, film ini sudah bisa kita saksikan. Aku yakin banyak sekali orang-orang senasib -yang sudah tidak lagi muda :p- masih berniat mau nonton film ini, jadi mari kita sama-sama bersabar yah. Hehehehe.

S.H

Pekerjaan Idaman

September mendatang, genap akan sudah 2 tahun aku bekerja di sini.

Meskipun baru perusahaan kedua yang “kucicipi”, aku merasa mungkin hitungan tahunku di sini masih akan terus bertambah. Betahkah? Ya, dibuat sebetah mungkin. Apakah aku menikmati pekerjaan ini? Jujur, tidak. Tidak cari pekerjaan lain saja? Pernah, tapi sepertinya aku sudah mulai terjebak di comfort zone.

Antara keinginan meninggalkan pekerjaan ini dan mencari yang lain, tentu dengan harapan pekerjaan itu akan membawa nuansa dan semangat baru dalam hidupku, dengan fakta bahwa keadaan pekerjaan sekarang sebenarnya tidak buruk. Tempat ini dekat dari rumah; saat teman-teman kebanyakan harus berjibaku naik kereta sepagi mungkin untuk menjangkau tempat kerjanya di ibu kota, aku cukup harus sisihkan waktu 40 menit untuk sampai ke sini. Gaji? Tidak juga buruk. Tentu, kalau kita lihat ke atas, kita akan merasa kurang, tapi pada dasarnya aku selalu berusaha bersyukur dengan apa yang kudapatkan; apalagi sehari-harinya aku seakan terus diingatkan secara tidak langsung oleh kebanyakan orang yang kutemui di sini, bahwa gajiku masih lebih baik dibanding mereka. Itulah salah satu caraku bersyukur. Setiap kehampaan dan kebosanan lagi-lagi datang, aku berusaha mengingat-ingat terus poin-poin kesyukuranku seperti di atas.

Sebenarnya, aku mengharapkan pekerjaan yang sifatnya rutin dan jelas. Posisiku di sini sebagai sekretaris plus translator, sayangnya, memiliki satu jobdesc yang seringkali lebih dulu membuatku seolah “muak” dengan apa yang harus kukerjakan, bahkan sebelum aku menyentuhnya: mengkompilasi laporan-laporan yang bahkan formatnya sekacau rumahku kalau tidak ada pembantu. Jujur, aku muak. Aku. Muak.

Jenis pekerjaan apa yang aku nikmati? Well, aku pernah mentranslate subtitle dialog drama saat masih kuliah dulu. Dengan bayaran tak seberapa dan waktu deadline yang mepet (ditambah kemampuan translasiku yang saat itu masih minim), aku toh ternyata cukup menikmatinya. Ada plot cerita di situ, yang sukses membuatku penasaran bagaimana kelanjutannya. Ada keterlibatan emosi di situ, dialog yang menandakan amarah, cemburu, atau datar saja, bagaimana mengolah kata agar itu semua tersampaikan (bilang ajaaa mau nonton dramanya! hahaha).

Entah apa yang harus kulakukan agar dapat menikmati keseharianku ini. I really want to be able to feel the love of doing my daily activities. Ya dong, daily basis gitu kan. Tanpa kecintaan mengerjakan itu, kamu cuma akan jadi seperti zombie. Masalahnya, I’m actually halfway on becoming that zombie. Hanya bisa dijalani, tanpa passion, tanpa enthusiasm. Entahlah.

Finally, here I am doing all these things just because the need of money. Man, just don’t let me be that kind of materialistic person!

S.H

 

Marshanda dan Bipolar Disorder

Publik sedang dibuat heboh (lagi) oleh Marshanda.

Kemarin, 10 Agustus, genap usia 25 tahun dirinya. Saya baca artikel tentang bagaimana Riyanti Sofyan, sang ibunda, mengantarkan sendiri kado ulangtahun untuk sang putri tercinta, ke apartemennya. Namun di sana kosong, sementara si Caca benar-benar nggak bisa dihubungi, jadi sang Ibu nggak tahu di mana keberadaan anaknya tsb. Mama Riyanti pun pulang kembali berderai air mata. Tadi malam saat nonton Just Alvin di Metro TV, barulah saya tahu kalau di hari yang sama dengan kejadian itu, si Caca malah lagi asik kasih wawancara khusus dengan Alvin. Termasuk cipika-cipiki dengan Alvin yang mengucapkan selamat atas 25 tahun umurnya.

Di sini saya mau tuliskan pemikiran simpel-ku tentang kasus Caca. Ya, basically saya nggak bisa berpikir rumit, jadi terhadap kasus Caca yang bagiku sangat menarik ini, saya ada pandangan sendiri. Dari mana dasarnya? Dari kepo-kepo melalui media, termasuk medsos pribadi Caca (amarshanda, tumblrnya, dan instagram). I’m a real kepo queen anyways, hehe. Saya termasuk follower Caca di instagram, tepatnya lupa sejak kapan, tapi kira-kira sejak Sienna lahir ke dunia, Januari 2013. Aku bukan shanity (penggemar Caca), tapi aku suka sekali sama Sienna…. ❤

1. Caca memang mengidap bipolar disorder, despite her total denial. Seperti vonis dr. Richard yang sudah menangani Caca sejak kasus Youtubenya di 2009, bipolar disorder 2. Sebagian besar ciri bipolar disorder ada di Caca.

2. Mungkin awalnya dari genetik, karena kemungkinan Riyanti pun (dari cerita Caca semalam di Just Alvin) ada gejala stress, tetapi dia mampu manage itu. Mungkin karena Riyanti adalah single parent akibat cerai, meski cerai itu dia sendiri yang minta di tahun 1990. Membesarkan tiga anak sendirian, mengurusi hotel keluarga, pasti tidak mudah. Mungkin awalnya perceraian orangtualah yang menjadi pemicu munculnya stress Caca, selain memang dia ada “bakat” bipolar dalam dirinya. Tetapi, Riyanti tidak kemudian memperlakukan Caca dengan tepat, makanya stress di diri Caca makin parah.

3. Kenapa saya yakin Caca bipolar? Coba lihat, kasus Youtube 2009 itu, apakah orang dengan kondisi psikis normal (ditambah dia seorang seleb yang pasti tindak tanduknya jadi sorotan) akan meluapkan emosinya dengan cara seperti itu? Ben sudah kasih saran yang baik agar Caca coba ke psikiater, dan dari situlah Caca mulai rutin konsumsi obat penstabil emosi setiap hari. Seharusnya, seumur hidupnya. Bipolar memang tidak bisa disembuhkan total, tetapi hanya dapat diminimalisirkan dengan mengontrol emosi si penderita. Membuatnya sestabil mungkin. Kurun 2009-2014 sebelum Caca berhenti minum obat, dia sangat positif. Dia memutuskan pakai jilbab, dia menikah, dia melahirkan seorang putri cantik yang sangat cerdas, dia semangat belajar ilmu parenting, dia menjadi motivator, dia buka usaha jilbab (Marsha Hijab) dan sukses, dia berencana launch buku, dia bahagia dengan keluarganya (termasuk dengan ibu dan adik-adiknya), kesemua ini saya lihat sebagai hal positif. Lalu coba lihat sejak dia berhenti minum obat (saya asumsikan ini tidak serta merta dia lakukan begitu saja tapi bertahap): dia mulai garap vclip Kamu, dia gugat cerai Ben (meski menurut Ben pertengkaran mereka saat itu tidak sampai pada level yang mungkin bisa menyebabkan perceraian), dia buka jilbab, dia upload lagi video curhatnya, dan puncaknya dia ternyata ingin lepas dari Ibunya. Semua hal negatif akibat kelabilan emosi.

4. Caca katakan inilah the real her, bahwa saat ini ia paling bahagia, bahwa selama rentang 2 tahun sebelum itu (berarti kira-kira sejak dia menikah dan pakai jilbab) kebahagiaannya tidak ada apa-apanya dibandingkan saat ini. Saya tidak percaya. Bukan menuduh Caca bohong, tidak, karena saya selalu percaya Caca jujur. Dia orangnya smart, dia tahu apa yang dia katakan dan dia lakukan. Saya percaya inilah yang Caca rasakan sekarang, bahwa dia sedang berada di phase happiest of her, bahwa jika kasus ini berakhir, dia akan mendapatkan freedom yang selama ini dia butuhkan. Tapi saya tidak percaya bahwa ini benar demikian. Saya percaya ini hanya pikiran dia yang dipicu dari emosinya yang saat ini lagi-lagi sedang tidak stabil. Kenapa? Karena, hey Ca, saya pernah datang ke seminar motivartist kamu, dan kamu katakan hal yang totally sama. Bahwa saat itu kamu sangat bahagia, kamu alami semua penderitaan di masa lalu untuk bisa sampai ke tahap bahagia kamu di saat itu.

5. Caca itu pintar. Termasuk keputusan pakai jilbabnya yang sekarang dicurigai cuma karena ikut-ikutan tren atau untuk bisa masuk ke keluarga Ben, saya katakan dengan yakinnya, tidak demikian. Jilbab adalah cara Caca untuk bersyukur kepada Allah yang dirasakan dia (saat itu) sudah berikan banyak kebaikan dan kasih untuk Caca. Kalau sekarang dilepas, berarti karena rasa syukur itu sudah lenyap. Mengapa begitu mudahnya seorang Caca yang demikian cerdas mengambil keputusan berani seperti ini? Karena pada dasarnya emosi dia sedang labil. Caca pernah telepon mantan managernya nangis-nangis mengadu bahwa Ibunya begini-begitu, keesokan harinya dia sudah peluk-pelukan lagi kan sama si Ibu?

Kesimpulan simpelnya:

Caca memiliki faktor genetik untuk bipolar –> perceraian Ibunda di masa kecil menjadi pencetus stressnya, ditambah sifat aslinya yang enthusiactic dan ambisius –> mengupload video emosi Youtube –> divonis postif bipolar dan harus rutin minum obat –> mengkonsumi obat penstabil emosi –> emosi stabil walaupun selalu ada letupan dari dirinya karena memang karakter aslinya demikian –> letupan itu dapat dikontrol secara positif karena emosi terkontrol stabil –> bertemu orang yang membawa pengaruh tidak baik, plus karakter dasar yang masih suka meletup-letup –> mulai gamang untuk tidak lagi konsumsi obat –> terpengaruh sepenuhnya oleh orang itu –> berhenti minum obat –> mulai merasa waswas dan insecure lagi seperti saat SD –> ben jadi korban pertama yang digugat karena perasaan insecurenya –> buka jilbab karena dirasa itu mengekangnya, mungkin juga sebagai bentuk protes atas segala nikmat yang dirasakan sudah dicabut darinya –> ingin lepas dari Ibunda dan keluarga untuk dapat maksimal “berbahagia” dengan caranya.

Saya nggak nyalahin Caca, karena biar bagaimanapun ini di luar kontrolnya. Ibunda juga ada andil menyebabkan Caca seperti itu, tapi Ibunda juga ada kesulitannya sendiri. Saya justru prihatin, rasanya sediiiih sekali kalau lihat bagaimana dia dulu (rentang setelah menikah sampai sebelum gugat cerai) lalu lihat dia yang sekarang. Baiknya kita semua doakan saja agar Caca bisa “kembali”…. Demikian.

S.H

Malam Sebelum Senin

Akhir-akhir ini ada banyak hal yang mengusik pikiranku. Logika berkata itu semua nggak penting, tapi seperti biasa, nurani melawan. Pada dasarnya aku tipe orang yang nostalgic, di saat-saat tertentu ketika ada yang memicu, otakku bisa kembali memutar memori tertentu dan kadangkala tanpa kenal waktu. Yang bikin hati nggak tentram, adalah jika otak ini masih aktif sekali bahkan menjelang tengah malam.. atau bahkan lewat tengah malam, ketika beberapa jam lagi saja berlalu maka sudah masuk ke tanggal baru. Hari baru. Makin nggak tentram kalau itu adalah hari Senin. Jadi selalu aku berandai-andai, oh, alangkah baiknya jika karyawan -seperti aku- bisa dapat dispensasi khusus insomnia….